Spirit Ramadan Momen Hijrah Diri Menjadi Lebih Baik
Ramadan Bukan Sekadar Puasa, Ini Pesan Ustaz Saidul Amin di Masjid Annur
- Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:53 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU – Masjid Agung An-Nur Riau terus memberikan ruang bagi umat Islam untuk memperdalam ilmu agama, terutama menjelang dan selama bulan Ramadan. Salah satunya melalui tabligh akbar yang digelar pada Sabtu (21/2/2026) pagi.
Kajian tersebut menghadirkan Ustaz Dr H Saidul Amin dengan tema “Spirit Ramadan Momen Hijrah Diri Menjadi Lebih Baik”. Kegiatan ini diikuti jemaah dari berbagai kalangan dan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan.
Dalam ceramahnya, Ustaz Saidul Amin menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar ibadah rutin tahunan, melainkan metode pendidikan spiritual dari Allah SWT untuk melatih manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
“Ramadan adalah madrasah ruhaniyah, sekolah bagi jiwa kita. Allah SWT mengajarkan kita melalui metode peran langsung dalam kehidupan. Saat berbicara tentang kemiskinan, kita harus merasakan bagaimana lapar itu menyakitkan. Dengan puasa, kita ditempa untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan,” ujarnya.
Ia menyebut Ramadan sebagai lautan ilmu yang sarat hikmah. Menurutnya, ada empat konsep utama yang dapat dipetik dari ibadah puasa, yakni liberalisasi, humanisasi, transendensi, dan yurisdiksi.
Pertama, puasa sebagai bentuk liberalisasi atau pembebasan dari belenggu hawa nafsu. Ia menjelaskan bahwa puasa bukanlah pengekangan kebebasan, melainkan sarana untuk mengendalikan diri.
Mengutip pandangan Hamka, ia menyampaikan bahwa puasa justru membebaskan manusia dari penjajahan hawa nafsu. Jika nafsu dibiarkan menguasai diri, manusia akan menjadi budak keinginannya sendiri.
Kedua, puasa sebagai humanisasi atau memanusiakan manusia. Ramadan melatih kepedulian sosial, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung. Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang diharapkan lebih memahami penderitaan orang lain dan tumbuh empati dalam dirinya.
“Ketika kita merasakan lapar, kita akan lebih memahami penderitaan orang-orang yang kelaparan setiap hari. Jika manusia kehilangan kemanusiaannya, ia bisa lebih buruk daripada binatang,” kata Saidul Amin.
Ketiga, puasa sebagai transendensi, yakni upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa mengajarkan kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah atau muraqabatullah.
“Ketika berpuasa, kita bisa saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain. Namun kita tidak melakukannya karena sadar bahwa Allah melihat segala sesuatu,” jelasnya.
Sumber: https://mediacenter.riau.go.id/
Keempat, puasa sebagai yurisdiksi, yakni sarana membersihkan diri dari dosa-dosa, kecuali dosa syirik. Ia mengingatkan agar umat Islam memperbanyak ibadah dan amal baik di bulan Ramadan untuk meraih ampunan Allah SWT.
Melalui kajian tersebut, jemaah diharapkan semakin memahami makna Ramadan sebagai momentum hijrah diri menjadi pribadi yang lebih baik.
