Didi Meimei Riau 2026 Digelar di Mal SKA, PSMTI Riau Usung Semangat Kebangsaan
- Selasa, 26 Mei 2026 - 12:14 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau kembali menggelar ajang pemilihan Didi Meimei Riau 2026 yang berlangsung di Pekanbaru' style='color:#0078b8;font-weight:600'>Mal SKA Pekanbaru, Ahad (24/5). Pada tahun kedua penyelenggaraannya, kegiatan tersebut kembali menghadirkan antusiasme peserta dan masyarakat.
Pada pelaksanaan tahun ini, terpilih dua pasangan pemenang untuk kategori anak-anak dan remaja.
Untuk kategori remaja (B), gelar Didi Meimei Riau 2026 diraih oleh Richie Evandy Anggunawan dan Sheren Angelina TSE. Sementara kategori anak-anak (A) dimenangkan oleh Shane Valerian dan Scelyn Audrey Sikdiprawiro.
Ketua PSMTI Riau, Lindawati, mengatakan tema yang diangkat tahun ini adalah “Saya Bangga Menjadi Tionghoa Indonesia”. Menurutnya, tema tersebut memiliki makna penting dalam menanamkan nilai kebanggaan identitas sekaligus semangat persatuan.
“Kita ingin anak-anak dan generasi muda memahami bahwa menjadi Tionghoa Indonesia adalah sebuah kebanggaan, tetap mencintai budaya leluhur, namun juga terus menjaga persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan sebagai bagian dari Indonesia,” ujarnya.
Lindawati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, sponsor, mentor, orang tua serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Grand Final Didi Meimei Riau 2026.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi positif bagi generasi muda di Riau sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah keberagaman.
“Semoga kegiatan Didi Meimei Riau dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi positif bagi generasi muda di Riau, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman yang kita miliki bersama,” katanya.
Sementara itu, Penggagas Didi Meimei Riau, Stephen Sanjaya, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas peserta pada tahun ini merupakan hasil evaluasi dan pengembangan yang dilakukan oleh pendiri serta pengurus PSMTI Riau.
Menurutnya, program Didi Meimei lahir sebagai solusi dari kendala yang selama ini sering terjadi pada ajang Koko Cici, di mana peserta umumnya berasal dari rentang usia 17 hingga 25 tahun.
“Sering kali Koko Cici yang sudah terpilih itu biasanya usia 17 tahun dan masih duduk di bangku sekolah. Ketika baru menjalankan tugas, mereka kemudian melanjutkan pendidikan ke luar daerah sehingga tugas di daerah sering tidak maksimal,” ungkapnya.
Ia menilai pembinaan sejak usia dini menjadi langkah strategis untuk membentuk karakter, mental, serta meningkatkan rasa percaya diri generasi muda.
Stephen menambahkan, Didi Meimei Riau tidak hanya menjadi ajang menampilkan bakat dan kemampuan peserta, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda Tionghoa agar mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
“Panggung Didi Meimei Riau bukan sekadar kompetisi unjuk bakat dan keelokan visual semata. Ini menjadi ruang pembinaan generasi muda agar mampu tumbuh, bersinergi, dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia,” tuturnya.(***)
