Jejak Perjuangan Abdul Razak Ardi Kembali Dikenang pada HUT ke-69 Provinsi Riau
- Senin, 10 Agustus 2026 - 13:50 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU - Kisah perjuangan H Abdul Razak Ardi dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia kembali mendapat penghormatan. Pejuang asal Indragiri Hilir tersebut dianugerahi Gelar Tokoh Pejuang Daerah Provinsi Riau Tahun 2026 oleh Pemerintah Provinsi Riau.
Penghargaan diberikan secara anumerta dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau. Penganugerahan berlangsung dalam rapat paripurna DPRD Riau, Ahad (9/8/2026).
Penghargaan tersebut diterima salah seorang ahli waris Abdul Razak Ardi, Drs Pahmijan MPd. Pahmijan merupakan mantan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi Riau dan kini menjabat Ketua Kerukunan Keluarga Banjar Riau (KKBR).
Penyerahan penghargaan dilakukan langsung Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto bersama Ketua DPRD Riau Kaderismanto. Prosesi tersebut turut disaksikan pimpinan dan anggota DPRD Riau serta para tamu undangan.
Nama Abdul Razak Ardi dikenang melalui sejumlah kisah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya ketika ia berhasil menyelamatkan diri dari kejaran dengan menyusuri Sungai Indragiri di Rengat.
Dalam situasi perjuangan yang penuh ancaman dan ketidakpastian, Sungai Indragiri menjadi jalur yang digunakan Abdul Razak Ardi untuk meloloskan diri. Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari jejak perjuangannya yang terus diceritakan kepada keluarga dan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Riau menetapkan Abdul Razak Ardi sebagai salah satu Tokoh dan Pejuang Daerah Provinsi Riau Tahun 2026 melalui Keputusan Gubernur Riau Nomor 525/VII/2026.
Penganugerahan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas jasa, pengabdian, perjuangan, serta dedikasi Abdul Razak Ardi kepada masyarakat, daerah dan bangsa.
Abdul Razak Ardi meninggal dunia pada 23 Maret 1991, bertepatan dengan 7 Ramadan 1411 Hijriah. Meski telah puluhan tahun wafat, perjuangannya masih dikenang, khususnya oleh keluarga besar dan masyarakat Banjar di Riau.
Pahmijan mengatakan, penghargaan tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga. Menurutnya, pengakuan dari pemerintah daerah juga menjadi pengingat agar perjuangan para pendahulu tetap dikenal oleh generasi sekarang.
“Alhamdulillah, ini tentu kehormatan bagi keluarga Abdul Razak Ardi. Melalui momen HUT Riau ini merupakan kado istimewa atas jasa dan pengabdian almarhum,” kata Pahmijan.
Selain sertifikat penghargaan, para ahli waris juga menerima tali asih dari Pemerintah Provinsi Riau sebagai bentuk penghormatan dan perhatian kepada keluarga para pejuang.
Abdul Razak Ardi meninggalkan tujuh putra-putri, yakni Marsma (Purn) TNI AU H. Burhanuddin Razak (alm), Dr. Hj. Raihana Ara, Drs. H. Rizwar Razak (alm), Ir. Suhita Razak (alm), Syafrizal Razak, SH, H. Pebrialin Razak, SE, M.Si., serta Linda Laila, SH (alm).
Bagi keluarga besar Abdul Razak Ardi, penghargaan tersebut kini menjadi bagian dari warisan sejarah keluarga. Penghormatan itu sekaligus menjadi penanda bahwa perjuangan seorang pejuang yang pernah mempertaruhkan hidup, termasuk menyusuri Sungai Indragiri untuk menyelamatkan diri, tetap dikenang.
Dalam momentum HUT ke-69 Provinsi Riau, penghargaan diberikan kepada 10 tokoh pejuang daerah. Selain Abdul Razak Ardi, terdapat Abdullah Nur, ulama pejuang dan politisi yang berkiprah dalam dakwah dan politik di Bengkalis.
Kemudian H Ahmad Maulana, pejuang kemerdekaan yang selanjutnya menjadi anggota TNI dan dikenal dalam perjuangan pengibaran bendera di Bengkalis. Ada pula Tuan Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi, tokoh yang berjuang menyebarkan Islam dan pendidikan di Mandau, Bengkalis.
Penghargaan juga diberikan kepada Tuan Syekh Usman bin Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi, tokoh masyarakat dan agama di Mandau yang turut terlibat dalam perjuangan.
Tokoh lainnya yakni Sinmardi Taman alias Pek Sing Tjong. Ia terlibat langsung dalam perjuangan, termasuk mencari amunisi dan makanan hingga ke Singapura serta turut memberantas G30S/PKI.
Selanjutnya Syed Zein Al-Jufri bergelar T. Pangeran Kesuma Dilaga, panglima perang sekaligus diplomat yang dikenal luas dan berasal dari Siak.
Ada pula Abdul Manaf bin Taher, pejuang kemerdekaan asal Indragiri Hilir yang turut mengibarkan bendera Merah Putih di Kepulauan Riau dan Indragiri Hilir.
Berikutnya H Amir Hoesin Attan, tokoh pejuang kemerdekaan yang juga berkiprah dalam bidang pendidikan dan agama. Sementara tokoh terakhir adalah Tengku Mansyur Chalid, pejuang pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan. (MCR)
