Menelusuri Azimat Kuno Melayu di Museum Sang Nila Utama, Warisan Budaya dari Abad ke-18
- Selasa, 09 Juni 2026 - 20:31 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU – Di balik lembaran-lembaran naskah tua yang tersimpan di UPT Museum Sang Nila Utama Riau, tersimpan jejak panjang kebudayaan Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Naskah kuno tersebut tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga memuat nilai spiritual, petuah kehidupan, hingga kepercayaan masyarakat masa lampau yang dituangkan dalam bentuk azimat.
Keberadaan azimat kuno di Bumi Lancang Kuning kini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian tradisi tulis Melayu. Museum Sang Nila Utama terus melakukan konservasi terhadap berbagai manuskrip kuno agar tetap terjaga dan tidak hilang akibat faktor usia maupun perubahan zaman.
Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Riau, Achmad Al Azhari, mengatakan azimat yang menjadi koleksi museum berasal dari berbagai daerah di Riau. Namun, konservasi yang saat ini sedang difokuskan berasal dari wilayah Kampar dengan tulisan menggunakan aksara Arab.
“Azimat ini merupakan bagian dari koleksi peninggalan naskah kuno yang dirawat di Museum Sang Nila Utama. Sebenarnya koleksi ini berasal dari berbagai daerah, namun yang sedang kami konservasi saat ini berasal dari Kampar,” ujarnya sambil memperlihatkan manuskrip berusia ratusan tahun, Selasa (8/6/2026).
Meski telah berusia sangat tua, sebagian besar naskah masih tersimpan dalam kondisi cukup baik. Namun, perubahan warna pada kertas dan bagian tepi yang mulai rapuh menjadi tanda perjalanan panjang manuskrip tersebut sejak pertama kali ditulis pada masa lampau.
Pria yang akrab disapa Babe itu menjelaskan, sejumlah azimat diperkirakan telah ada sejak abad ke-18 Masehi. Meski demikian, tidak terdapat catatan pasti mengenai tahun pembuatan masing-masing azimat karena benda tersebut bersifat pribadi dan diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga.
“Untuk detail usia memang bervariasi. Dari kajian yang ada, sebagian diperkirakan berasal dari abad ke-18 Masehi. Namun tidak ada catatan pasti mengenai usia sebuah azimat di Riau karena benda-benda seperti ini diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.
Menurut Babe, pada masa lalu azimat dipercaya memiliki nilai magis bagi pemiliknya. Selain diyakini sebagai pelindung diri, isi tulisan di dalamnya juga dianggap sebagai tuntunan hidup yang diwariskan oleh penulis kepada pemilik azimat.
“Isi dan makna yang terkandung dalam azimat ini, menurut kepercayaan masyarakat dahulu, menjadi pelindung diri sekaligus tunjuk ajar bagi pemiliknya. Tulisan yang digunakan pun beragam, mulai dari aksara Arab, Arab-Melayu hingga Jawi,” terangnya.
Keunikan manuskrip azimat tidak hanya terletak pada isi tulisan, tetapi juga pada bentuk visual yang menyertainya. Beberapa naskah memuat simbol, gambar, pola geometris, hingga ilustrasi sederhana yang diyakini memiliki makna tertentu sesuai kebutuhan pemiliknya pada masa itu.
Tinta yang mulai memudar pada sejumlah manuskrip memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu masa lampau memadukan unsur spiritual, seni, dan tradisi tulis dalam satu karya yang bersifat personal.
“Menariknya, azimat ini bukan hanya berisi tulisan, tetapi juga terdapat gambar-gambar manuskrip dengan karakteristik tertentu. Untuk media tulisnya pun beragam, mulai dari kertas Eropa hingga daluang,” ungkapnya.
Penggunaan bahan tulis yang berbeda menunjukkan adanya interaksi budaya dan perdagangan pada masa lalu. Kertas Eropa menjadi bukti hubungan masyarakat Melayu dengan jalur perdagangan internasional, sedangkan daluang mencerminkan pemanfaatan bahan lokal dalam tradisi penulisan naskah.
Saat ini, azimat tidak lagi dipandang semata sebagai benda mistis. Bagi para peneliti dan pemerhati budaya, manuskrip tersebut merupakan warisan budaya yang merekam pola pikir, sistem kepercayaan, serta kehidupan sosial masyarakat Melayu pada masanya.
“Pada intinya, azimat saat ini merupakan bagian dari koleksi peninggalan budaya. Riau memiliki tradisi tulis yang sangat kaya dan naskah-naskah yang ditemukan menjadi bagian penting dari hasil kebudayaan Melayu,” kata Babe.
Museum Sang Nila Utama terus mendorong upaya konservasi agar generasi muda dapat mengenal dan memahami kekayaan manuskrip Melayu yang pernah berkembang di Riau. Langkah tersebut dinilai penting sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan daerah sekaligus menjaga identitas sejarah masyarakat Melayu.
“Dalam konteks pemajuan kebudayaan, manuskrip seperti ini merupakan bagian dari pengembangan tradisi tulis. Di dalamnya tentu banyak memuat nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat masa lampau,” tutupnya.
