Kuliner Tradisional Riau Jadi Bintang di Pekan Budaya Melayu Serumpun, Harga Ramah Kantong

  • Jumat, 08 Agustus 2025 - 16:29 WIB
Gubernur Riau, Abdul Wahid, bersama rombongan menyambangi stan kuliner Kampar di Pekan Budaya Melayu Serumpun, Kamis (7/8/2025). (Media Center Riau)


HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARUPekan Budaya Melayu Serumpun tahun ini bukan hanya menampilkan kemegahan seni dan budaya, tetapi juga menggugah selera lewat ragam kuliner tradisional. Deretan stan makanan khas daerah berjejer rapi, mengundang pengunjung mencicipi kekayaan rasa Riau.

Hidangan khas Kampar seperti palito daun, ondang maco, dan es tebak menjadi primadona. Palito daun, misalnya, terbuat dari tepung beras dan gula yang dibungkus daun pandan, menghasilkan rasa manis khas dengan aroma wangi yang memikat.

“Rasa manisnya khas sekali, apalagi aroma pandan yang meresap,” ujar Ketua Siompu Kampar Riau, Didis, saat ditemui di stan kulinernya, Kamis (7/8).


Ondang maco, yang mirip rendang namun berbahan dasar ikan teri, menawarkan paduan gurih dan pedas yang menggugah selera. Ada juga jajanan tradisional seperti galopuong dan kalamai gegek yang sarat cerita dan sejarah.

Suasana makin meriah saat Gubernur Riau, Abdul Wahid, mengunjungi stan Kampar dan mencicipi langsung hidangan khas tersebut. “Alhamdulillah, kami senang sekali Pak Gubernur mampir,” kata Didis bangga.

Sayangnya, satu kuliner andalan bernama jangkau durian belum sempat dibawa. Kudapan ini dibuat dari durian dengan resep turun-temurun yang memiliki cita rasa unik.


Bagi pengunjung, harga bukan masalah. Semua kudapan dijual terjangkau, mulai Rp5.000–Rp10.000. “Kami ingin stan ini jadi persinggahan yang ramai, karena banyak jajanan tradisional yang jarang ditemui,” jelas Didis.

Siompu Kampar sendiri merupakan wadah perempuan Kampar di Pekanbaru. Nama “Siompu” adalah gelar adat tertinggi bagi perempuan Kampar yang dihormati, simbol peran besar mereka dalam pelestarian budaya dan kuliner.

Selain Siompu Kampar, puluhan tenant kuliner dan ekonomi kreatif turut meramaikan acara, dari Makan Beradap, Gerai Juadah Melayu, Mie Sagu Boedjang, hingga Kopi Puan dan Luminary Ice Cream.

Kepala Dinas Pariwisata Riau sekaligus Ketua Panitia, Roni Rahmat, menjelaskan bahwa stan kuliner sengaja dihadirkan untuk mengangkat identitas budaya sekaligus menjadi daya tarik wisata. Ia menekankan, kuliner tradisional bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menyimpan filosofi dan nilai sosial yang memperkaya budaya Riau.

“Kalau tidak kita lestarikan, kuliner ini bisa hilang ditelan zaman. Pekan Budaya Melayu Serumpun adalah momentum tepat untuk memperkenalkannya,” tegasnya.

Acara ini menjadi bukti sinergi pemerintah dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat. Harapannya, kuliner tradisional Riau dapat terus lestari dan menjadi magnet bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.(MCR)




Baca Juga