Pantang Pulang Sebelum Bersih, Dedikasi Mina Jaga Wajah Kota Pekanbaru
- Rabu, 22 April 2026 - 11:26 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU - Saat sebagian besar warga masih terlelap, Mina sudah memulai aktivitasnya. Dengan sepeda motor, ia menyusuri jalanan Kota Pekanbaru di dini hari. Udara dari kawasan Panam terasa dingin, namun langkahnya tetap mantap menjalani rutinitas sebagai petugas kebersihan.
Perempuan berompi biru ini telah bertahun-tahun mengabdikan diri di profesinya. Baginya, pagi tidak dimulai saat matahari terbit, melainkan jauh sebelum cahaya pertama menyinari jalanan kota.
Rutinitas itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia berangkat sebelum fajar dan berpegang pada prinsip pantang pulang sebelum pekerjaan selesai.
Di sepanjang jalan, Mina menghadapi berbagai jenis sampah yang ditinggalkan semalaman, mulai dari plastik, sisa makanan hingga limbah rumah tangga. Kondisi tersebut mungkin dihindari sebagian orang, namun justru menjadi tanggung jawabnya setiap hari.
Tidak jarang ia harus bekerja di tengah bau menyengat dan situasi yang kurang nyaman. Meski begitu, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh keteguhan.
“Rumah saya di perbatasan Pekanbaru dan Rimbo Panjang. Kalau berangkat ke sini harus jam setengah 4 subuh, supaya bisa salat dan mulai menyapu jalan lebih awal,” ujarnya di Jalan Cut Nyak Dien, Selasa (21/4/2026).
Bagi Mina, setiap pekerjaan memiliki nilai selama dijalani dengan baik. Ia juga meyakini menjaga kebersihan merupakan bagian dari rasa syukur kepada Tuhan.
“Kerja seperti ini menambah pahala. Mungkin di surga nanti kami jadi kaya, karena menjaga kebersihan itu sebagian dari iman,” ucapnya sambil tersenyum.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, Mina juga memiliki tanggung jawab membantu ekonomi keluarga. Meski bukan satu-satunya pencari nafkah, ia merasa perlu ikut berkontribusi.
Menurutnya, perempuan masa kini tidak lagi dibatasi oleh gengsi dalam bekerja. Ia percaya pekerjaan apa pun memiliki nilai selama dilakukan dengan sungguh-sungguh.
“Kalau masih pilih-pilih kerja karena gengsi, kita tidak bisa maju. Sekarang ekonomi semakin sulit,” jelasnya.
Prinsip tersebut membuatnya tetap bertahan hingga saat ini. Setiap sapuan yang ia lakukan bukan hanya membersihkan jalan, tetapi juga membawa harapan akan lingkungan yang lebih bersih dan masyarakat yang lebih peduli.
Ia juga berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan terus meningkat. Menurutnya, kebersihan kota tidak bisa hanya bergantung pada petugas.
“Kalau kita semua mau menjaga lingkungan, saya yakin kota ini bisa bersih. Itu saja harapan kami,” ungkapnya.
Meski tidak mengenakan kebaya seperti sosok Kartini, Mina menjalankan perjuangannya melalui kerja nyata. Dedikasinya yang sunyi kerap luput dari perhatian, padahal perannya sangat besar dalam menjaga kebersihan Kota Pekanbaru.
Berangkat sebelum fajar dan pantang pulang sebelum bersih menjadi komitmen yang terus ia pegang. Sebuah bukti bahwa semangat perjuangan Kartini tetap hidup dalam berbagai bentuk.(MCR)
