Cap Go Meh dan Ramadan Beriringan, Bupati Siak Sebut Ini Wajah Toleransi Negeri Istana
- Rabu, 04 Maret 2026 - 13:49 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, SIAK – Bupati Siak, Afni Zulkifli, menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menyebutnya sebagai simbol kuat persatuan dalam keberagaman masyarakat Kabupaten Siak.
Hal tersebut disampaikan Afni saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dirangkaikan dengan Cap Go Meh di Kelenteng Hock Siu Kiong, Kecamatan Siak, Selasa malam (3/3/2026).
Perayaan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. Sejumlah unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, Lembaga Adat Melayu, organisasi kepemudaan, hingga ratusan warga dari berbagai latar belakang turut hadir memeriahkan acara.
Dalam sambutannya, Afni menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh kepada masyarakat Tionghoa Kabupaten Siak. Ia juga mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kehadiran kita malam ini adalah bukti bahwa Siak adalah rumah besar bagi semua,” ujarnya.
Menurut Afni, momentum Cap Go Meh yang beriringan dengan bulan suci Ramadan menjadi gambaran nyata harmoni yang terjalin di Negeri Istana.
“Perayaan ini bukan hanya peristiwa budaya, tetapi simbol bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan kekuatan yang merekatkan kita. Di saat umat Muslim menjalankan Ramadan, saudara-saudara kita merayakan Cap Go Meh dengan penuh suka cita. Inilah wajah harmoni Siak yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Afni juga mengenang kedekatannya dengan kawasan Pecinan sejak kecil. Ia menilai nilai kebersamaan antar komunitas telah tumbuh jauh sebelum pembangunan modern berkembang di daerah tersebut.
“Nilai persaudaraan ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar mereka juga merasakan hangatnya kebersamaan seperti hari ini,” ucapnya.
Bupati perempuan pertama di Siak itu turut menyoroti keberadaan Kelenteng Hock Siu Kiong yang telah berdiri sekitar 128 tahun. Menurutnya, kelenteng tersebut menjadi bagian dari sejarah dan warisan budaya Kabupaten Siak yang perlu dirawat dan didokumentasikan.
“Kelenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi bagian dari jejak sejarah panjang Siak. Kisah hubungan harmonis antara komunitas Tionghoa dan Kesultanan Siak harus kita rangkai dan dokumentasikan dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingat peristiwa kebakaran besar yang pernah melanda kawasan tersebut. Afni bersyukur kelenteng tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan dan persatuan masyarakat.
“Musibah pernah datang, tetapi kebersamaan kita jauh lebih kuat. Kita bersyukur kelenteng ini tetap berdiri sebagai simbol persatuan masyarakat Siak,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Perayaan, Joni Chang, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Siak, Kapolres Siak, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, sponsor, donatur, serta seluruh warga yang turut menyemarakkan acara.
Menurut Joni, Cap Go Meh bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi masyarakat Siak yang majemuk. Ia berharap momentum tersebut dapat mendorong promosi pariwisata dan pertumbuhan UMKM di daerah.
Perayaan tahun ini semakin semarak dengan pemasangan sekitar 1.500 lampion yang menghiasi kawasan kelenteng dan menarik perhatian warga, termasuk pengunjung dari luar daerah. Rangkaian acara diisi dengan pertunjukan barongsai, seni budaya, sajian kuliner khas Cap Go Meh, hingga penyalaan kembang api sebagai puncak perayaan.
Seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kebersamaan, mencerminkan kuatnya nilai toleransi, persatuan, serta semangat gotong royong di Negeri Istana.
