Rara Siti Rachmawati Ubah Kisah Hidup Menjadi Tiga Single
- Sabtu, 03 Oktober 2026 - 13:48 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU – Bagi Rara Siti Rachmawati, musik bukan sekadar kegemaran. Tiga single yang ditulisnya sendiri menjadi ruang untuk menuangkan pengalaman hidup, terutama perjalanan perasaan dalam kisah asmara.
Ketiga lagu tersebut masing-masing memiliki cerita. Asing Dalam Satu Malam menggambarkan fase galau, Semesta Hatiku lahir ketika dirinya sedang kasmaran, sedangkan Aku Harus Apa bercerita tentang kebimbangan dalam hubungan asmara.
"Alhamdulillah, untuk sekarang lagu yang Rara tulis sendiri sudah ada 3 single. Semua lagu-lagunya ini merupakan cerita kehidupan Rara," ujar Rara di Pekanbaru, Jumat (02/10/2026).
Menurut Rara, keberanian untuk menghasilkan karya tidak harus menunggu seseorang memiliki panggung besar, banyak penggemar, maupun peralatan produksi lengkap. Hal terpenting adalah menemukan inspirasi, mengembangkan kreativitas dan berani memulai.
"Untuk kawan-kawan yang mau memulai bikin lagu tentu pertama kali harus ada inspirasi, kreativitas, dan niat untuk memulai. Masalahnya, banyak anak muda sekarang yang lebih banyak komentar daripada bertindak," tutur Rara.
Ia menilai rasa cepat puas dan pesimis masih menjadi tantangan bagi anak muda dalam berkarya. Padahal, perkembangan platform digital telah membuka ruang yang lebih luas bagi musisi untuk memperkenalkan karya.
Karena itu, Rara mendorong adanya workshop dan wadah motivasi agar anak muda tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memahami proses produksi dan pengembangan karya.
"Tentu perlu ada workshop atau wadah motivasi agar anak-anak muda ini paham bagaimana cara memproduksi dan mengembangkan karya mereka," jelasnya.
Rara juga mengingatkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Baginya, tujuan utama berkarya seharusnya bukan sekadar mengejar viral.
"Jangan pernah berpikir sudah umur segini, ngapain berkarya?. Tidak ada kata terlambat. Niat awalnya pun jangan cuma mengejar viral, tapi fokus membuat karya dulu," tambahnya.
Ia mengibaratkan seniman musik seperti pelukis yang harus menghasilkan karya agar kemampuan yang dimiliki dapat diwujudkan.
"Analoginya sama seperti pelukis. Kalau dia tidak menghasilkan lukisan, apakah bisa disebut seniman? Sebakat apa pun kita, kalau tidak punya karya, kita bukan seniman," ucapnya.
Rara kemudian menyoroti ruang bagi musisi lokal di Riau. Menurutnya, daerah ini memiliki banyak penyanyi dan musisi yang mampu bersaing serta telah menghasilkan karya sendiri.
"Kita sebenernya sudah punya band lokal dan musisi lokal yang mampu bersaing di luar sana. Bahkan, kita juga punya tempat seperti Anjungan Seni Idrus Tintin atau Riau Creative Hub dan lain-lainnya, tetapi kenapa tidak dibuat program rutin penampilan karya lokal yang dikemas sekaligus promosi pariwisata," ungkapnya.
Ia juga menyoroti performer dalam konser dan kegiatan pemerintah daerah yang dinilainya kerap berasal dari nama yang sama.
"Setiap ada konser dan acara pemda, performer yang dipanggil sering kali orang yang itu-itu saja. Padahal talenta penyanyi lokal di Riau ini banyak sekali yang punya karya, tapi tidak diberi kesempatan," terangnya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Tekad Perbatas Setia Dewa, menyatakan komitmennya membuka ruang lebih luas bagi talenta lokal.
"Kami menyambut baik masukan dari Rara. Dinas Pariwisata Riau berkomitmen akan memberikan ruang yang lebih luas bagi talenta lokal untuk tampil secara rutin di Riau Creative Hub maupun Anjungan Seni Idrus Tintin," ujar Tekad Perbatas Setia Dewa.
Tekad juga menyebut kolaborasi pemerintah daerah dan pelaku seni penting untuk memperkuat citra pariwisata Riau berbasis kebudayaan. Pihaknya berencana menyusun pelatihan produksi musik bagi musisi muda di Riau.
Sementara itu, Rara melihat panggung musik juga dapat menjadi bagian dari promosi budaya dan pariwisata. Ia mencontohkan Voice of Turan di Kazakhstan yang mempertemukan penyanyi internasional dari sekitar 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan.
"Sebagai contoh, Voice of Turan di Kazakhstan. Kita tampil bersama penyanyi internasional dari 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan," tuturnya.
Rara membayangkan konsep serupa dapat diterapkan di Riau melalui kompetisi yang mempertemukan penyanyi dari Sabang hingga Merauke dengan membawakan lagu Melayu Riau.
"Harusnya daerah kita bisa bikin konsep serupa, misalnya kompetisi dari Sabang sampai Merauke membawakan lagu Melayu Riau. Pastilah dengan datangnya orang-orang ke sini, tentu bakal ada promosi budaya dan pariwisata Riau bahkan perputaran ekonomi bisa dirasakan," pungkasnya.(MCR)
