Riau Siap Kebut Program SISKA, Target 500 Ribu Sapi di Lahan Sawit

  • Kamis, 09 April 2026 - 12:51 WIB


HALILINTARNEWS.COM, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menyatakan kesiapan penuh dalam menjalankan program Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). Program ini dinilai realistis karena praktik menggabungkan perkebunan dan peternakan sudah lama dilakukan oleh masyarakat setempat.

Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan bahwa luasnya lahan perkebunan sawit serta ketersediaan sumber daya manusia menjadi kekuatan utama daerah dalam mengembangkan program tersebut. Ia menjelaskan, banyak petani sawit di Riau yang selama ini juga memelihara sapi di sekitar kebun mereka.

“Sebagian petani kelapa sawit kita memang sudah terbiasa memelihara sapi, sehingga konsep integrasi ini bukan hal baru bagi mereka,” ujar Mimi di Pekanbaru, Kamis (9/4/2026).


Untuk memperkuat implementasi, Dinas PKH Riau telah membentuk tujuh klaster SISKA di lima kabupaten sebagai proyek percontohan. Klaster ini diharapkan menjadi model yang dapat dievaluasi sebelum diterapkan secara lebih luas.

Di Kabupaten Rokan Hulu terdapat Klaster Sangkir Jaya di Desa Sangkir Indah dan Klaster Ternak Barokah di Desa Tandun. Sementara itu, Kabupaten Pelalawan memiliki Klaster Ternak Maju Bersama di Desa Rawang Sari, dan Kabupaten Kampar mengembangkan Klaster Jaya Abadi di Desa Tapung Lestari.

Selanjutnya, Kabupaten Siak memiliki dua klaster, yakni Klaster Talago Samsam di Kandis dan Klaster Mutiara Indah di Tualang. Adapun di Kabupaten Indragiri Hulu, Klaster Sinar Bakti berada di Desa Pontian Mekar.


Menurut Mimi, klaster-klaster ini menjadi langkah awal untuk membangun model bisnis peternakan yang lebih modern dan terintegrasi. Melalui proyek ini, pemerintah daerah dapat menentukan pola terbaik agar produktivitas sektor perkebunan dan peternakan meningkat.

Saat ini, populasi sapi di Riau tercatat sebanyak 206.205 ekor. Namun, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari potensi maksimal. Dengan luasnya lahan sawit yang ada, Riau diperkirakan mampu menampung hingga 500.000 ekor sapi jika program SISKA berjalan optimal.

Ia menilai kondisi ini sebagai peluang besar untuk meningkatkan populasi ternak sekaligus mendukung kebutuhan nasional.

Dari sisi kualitas, ternak sapi di Riau dinilai cukup baik. Hal ini didukung oleh keberadaan 195 petugas inseminasi buatan yang tersebar di seluruh daerah. Selain itu, sistem pemeliharaan yang melibatkan pergantian pejantan secara berkala juga membantu menjaga kualitas genetik dan mencegah kawin sedarah.

Keunggulan lainnya adalah ketersediaan pakan alternatif dari limbah kelapa sawit. Bahan seperti solid, bungkil, dan pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang ekonomis. Selain menekan biaya, pemanfaatan ini juga membantu pengelolaan limbah perkebunan.

Meski demikian, Mimi mengakui masih ada tantangan, terutama dalam koordinasi lintas sektor. Keterlibatan perusahaan perkebunan besar masih terbatas, dan pengelolaan lahan secara kolektif oleh pekebun kecil memerlukan pendampingan yang berkelanjutan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas PKH Riau terus menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset, termasuk BRIN dan Wageningen University. Dengan dukungan tersebut, pemerintah optimistis program SISKA dapat menjadi salah satu pilar ketahanan pangan dan ekonomi berkelanjutan di Riau ke depan.(MCR)




Baca Juga