Tim Riau Tembus Grand Final Debat Wirasena 2026, AI dan Seni Jadi Perdebatan

  • Senin, 02 November 2026 - 09:12 WIB
Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (30/10). (dok.Bagus/Kemenpora)


HALILINTARNEWS.COM, JAKARTA – Tim Riau berhasil melaju ke Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 bersama tiga tim dari Sumatera Utara, Bengkulu, dan Jawa Tengah. Pada babak puncak yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (30/10), para peserta beradu argumentasi mengenai penerimaan karya seni yang dihasilkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kompetisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Youth Summit (IYS) 2026. Empat tim yang tampil di babak final merupakan peserta terbaik setelah melewati seleksi yang diikuti 64 tim. Sebanyak 16 tim sebelumnya berhasil melaju ke kompetisi luring sebelum akhirnya empat tim memastikan tempat di babak puncak.

Tim Riau diperkuat Kayla Fauziah Fajri dan Yelika Paskabreina br. Meliala. Sumatera Utara diwakili Aldy Christian Tarigan dan Muhammad Jeri. Sementara itu, Faldzah Naadira dan Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah mewakili Bengkulu, sedangkan Jawa Tengah diperkuat Gwen Muninggar Maharani dan Raka Satria Madewa.


Dalam babak final, peserta membahas mosi, “Dewan ini percaya bahwa seni yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) seharusnya diterima daripada ditolak.”

Mosi tersebut memunculkan perbedaan pandangan mengenai perkembangan teknologi, kreativitas, hingga dampak penggunaan AI terhadap dunia seni.

Aldy Christian Tarigan dari tim Sumatera Utara yang tampil sebagai Opening Government (OG) berpandangan bahwa seni generatif AI perlu diterima seiring perkembangan teknologi dan perubahan cara masyarakat memandang seni.

Ia mencontohkan karya abstrak yang pada awalnya sempat dianggap bukan sebagai seni. Namun, seiring perubahan pemahaman masyarakat, karya tersebut akhirnya mendapat tempat dalam dunia seni.

Menurut Aldy, penerimaan terhadap seni generatif AI juga dapat membuka ruang untuk melakukan kurasi dan pengawasan. Sebaliknya, penolakan dinilai tidak serta-merta menghentikan penggunaan teknologi tersebut, tetapi justru berpotensi membuat penggunanya menyembunyikan proses pembuatan karya.

“Mereka akan menggunakan AI-nya terus-menerus secara diam-diam,” ujar Aldy.

Pandangan berbeda disampaikan Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah dari tim Bengkulu. Ia menyoroti potensi dampak penerimaan seni generatif AI terhadap penghargaan dan posisi para seniman manusia.

Menurutnya, kemudahan menghasilkan karya melalui perintah atau prompt kepada AI berisiko membuat proses kreatif yang dilakukan seniman manusia kurang dihargai.

“Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya itu. Orang-orang yang menggeluti seni tidak seharusnya dipandang sebelah mata dengan anggapan bahwa siapa pun bisa membuat karya hanya dengan menggunakan prompt,” kata Ghiffary.

Ghiffary juga mempertanyakan urgensi penerimaan seni generatif AI. Ia menyebut masyarakat sudah memiliki cara untuk mengenali konten buatan AI, antara lain melalui keterangan atau label pada musik dan konten digital.

Dengan mekanisme tersebut, menurutnya, masyarakat dapat membedakan karya yang dihasilkan AI tanpa harus menerima seni generatif AI.

Perbedaan pendapat dalam debat ini menunjukkan beragam sudut pandang generasi muda dalam menyikapi perkembangan teknologi. Peserta tidak hanya dituntut menyampaikan pendapat, tetapi juga membangun argumentasi, mempertahankan gagasan, dan merespons pandangan yang berbeda.

Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 pun menjadi ruang bagi generasi muda untuk menguji gagasan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam membahas isu-isu aktual di masyarakat. (Irf)

Sumber: kemenpora.go.id




Baca Juga