- Kesehatan
- Tak Semua Tanaman Obat Aman Dikonsumsi, Pakar UGM Ungkap Risikonya
Tak Semua Tanaman Obat Aman Dikonsumsi, Pakar UGM Ungkap Risikonya
- Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:55 WIB
- Redaktur : Redaksi

HALILINTARNEWS.COM, SLEMAN – Masyarakat diingatkan agar tidak menganggap semua tanaman obat tradisional aman dikonsumsi. Pakar Biologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Djoko Santosa, M.Sc., menegaskan bahwa sejumlah tanaman yang dipercaya memiliki khasiat tertentu justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika digunakan tanpa pengetahuan yang tepat.
Peringatan itu disampaikan Djoko dalam workshop bertajuk “Racik Rasa dan Rawat Jiwa” bersama Kelompok PKK Padukuhan Karanggayam, di Balai Padukuhan Karanggayam, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9).
“Jadi tidak semua yang disebut tanaman obat itu kemudian bagus dan aman untuk kita konsumsi. Ada tanaman-tanaman yang memang harus kita hati-hati dalam penggunaannya karena bisa berisiko bagi tubuh,” jelasnya.
Djoko mencontohkan daun sirsak, daun rondo noleh atau rondo semoyo yang dikenal sebagai “daun insulin”, daun mindi atau mimbo, serta brotowali. Menurutnya, penggunaan tanaman tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi berdampak terhadap kesehatan.
Konsumsi daun sirsak secara terus-menerus, misalnya, disebut dapat memengaruhi saraf dan kesehatan ginjal. Sementara itu, daun rondo noleh dan daun mindi juga perlu dihindari karena berisiko terhadap ginjal.
Ia turut mengingatkan masyarakat agar cermat memilih bahan untuk jamu pahitan, terutama dalam membedakan brotowali dan sambiloto.
“Kalau Ibu-ibu mau membeli jamu pahitan, tanya dulu ini yang direbus itu brotowali atau sambiloto. Kalau sambiloto boleh, tapi kalau brotowali saya nggak mau beli,” ujarnya.
Menurut Djoko, pemanfaatan tanaman obat harus mempertimbangkan takaran dan kondisi tubuh masing-masing. Kunyit asam, misalnya, dapat dikonsumsi dalam jumlah wajar, tetapi penggunaannya perlu dihentikan apabila menimbulkan reaksi alergi.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah mengikuti informasi pengobatan tradisional yang beredar di media sosial tanpa memahami dasar dan keamanan penggunaannya. Tanaman obat, katanya, perlu dimanfaatkan secara bijak dan tidak menggantikan penanganan medis ketika seseorang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut, Djoko juga memberikan edukasi mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dan jamu. Pengetahuan tentang tanaman yang tumbuh di sekitar lingkungan masyarakat dinilai penting agar warisan pengobatan tradisional tetap dikenal dan digunakan secara tepat.
“Masyarakat perlu mengenal pemanfaatan tumbuhan obat yang berada di sekitar lingkungan masing-masing,” jelasnya.
Selain membahas tanaman obat, workshop tersebut mengangkat pentingnya menjaga kesehatan mental. Djoko menjelaskan bahwa aktivitas sosial, seperti berinteraksi melalui komunitas, mengikuti pengajian dan arisan, hingga bercocok tanam bersama, dapat menjadi kegiatan yang mendukung kesehatan jiwa.
Ketua PKK Padukuhan Karanggayam, Wiwik Dwi Karyawati, menyambut positif kegiatan edukasi tersebut. Ia menilai kolaborasi bersama UGM memberikan tambahan wawasan bagi masyarakat, khususnya mengenai kesehatan mental dan pemanfaatan jamu.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat positif sekali karena dari kita, ibu-ibu, bisa mendapatkan tambahan wawasan yang lebih luas lagi. Seperti materi pada sore hari ini terkait dengan kesehatan mental dengan jamu,” ungkap Wiwik.
Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut agar pengetahuan yang diperoleh warga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk program ini saya berharap juga akan terus dilanjutkan lagi karena memang benar-benar sangat berdampak. Jadi, dari kampus dan juga bisa langsung berdampak ke warga masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Kegiatan Edukasi dan Sosialisasi Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi UGM, Dr. Dra. Raden Roro Upiek, mengatakan wilayah Catur Tunggal dipilih sebagai salah satu lokasi pembinaan setelah pihak kelurahan menyampaikan keinginan agar wilayah tersebut mendapat pendampingan dari Fakultas Biologi UGM.
Pendampingan dilakukan secara bertahap melalui pendekatan road to dusun, yakni dari satu dusun ke dusun lainnya. Salah satu dusun binaan sebelumnya, Mrican, telah dinilai mandiri sehingga pembinaan dapat diperluas ke wilayah lain.
“Terdapat 20 dusun di Catur Tunggal, pendekatan road to dusun diharapkan dapat memperluas jangkauan program pembinaan,” ujarnya.
Upiek menambahkan, kolaborasi Fakultas Farmasi dan Fakultas Biologi UGM bersama masyarakat Karanggayam melalui kegiatan “Racik Rasa dan Rawat Jiwa” merupakan upaya mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan warga. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat pembinaan desa mitra melalui edukasi kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/jangan-asal-konsumsi-pakar-ugm-sebut-tanaman-obat-tradisional-bisa-berbahaya/
