Dompet Dhuafa Gelar Ruang Cerita Daring Untuk Aksi Kemanusiaan
- Senin, 12 Januari 2026 - 10:46 WIB
- Redaktur : Redaksi
HALILINTARNEWS.COM, JAKARTA - Upaya peningkatan atas kesiapsiagaan bencana Dan ketahanan komunitas perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dar pemimpin, pelaksanaan lapangan, masyarakat hingga pemuda. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan “Ruang Cerita Daring - Berangkat Bareng, Bangkit Bersama Untuk Kemanusiaan” yang menghadirkan Ahmad Lukman bagian dari DMC Dompet Dhuafa, Dimas Dwi Pangestu CEO Youth Ranger Indonesia dan Slamet Widodo Relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang membahas mitigasi bencana dan pemberdayaan pemuda berbasis komunitas pada Kamis (7/1/2026).
Narasumber pertama disampaikan kepada Lukman yang menegaskan bahwa penentuan jalur evakuasi Dan titik kumpul tidak boleh dilakukan secara sepihak. Seluruh pihak terkait perlu menyepakati keputusan secara kolektif agar langkah yang diambil dapat dijalankan oleh semua unsur di lapangan. “Penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi harus disepakati bersama. Tidak boleh hanya satu pihak, sementara masukan Dari unsur lain seperti petugas keamanan diabaikan” ujar Lukman
Selain perencanaan, Lukman menekankan pentingnya langkah praktis melalui latihan rutin, seperti simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama. menurutnya, kesiapsiagaan lebih efektif jika dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Dalam kesempatan yang sama, Dimas Dwi Pangestu memaparkan peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan sosial dan keberlanjutan komunitas. Dimas memperkenalkan komunitas Youth Ranger Indonesia, sebuah wadah pengembangan potensi pemuda yang hadir di 34 provinsi dan berfokus pada pelatihan, pendampingan, serta penciptaan pemuda penggerak di daerah. “Anak muda Indonesia tidak pernah kekurangan potensi dan kreativitas. Yang masih kurang adalah akses dan sosok pendamping yang mampu mengarahkan potensi tersebut agar berkembang dan berdampak,” ujar Dimas
Dimas menekankan bahwa keberhasilan sebuah program sosial tidak diukur dari besarnya acara atau jumlah peserta, melainkan dari keberlanjutan program dan partisipasi aktif masyarakat setelah kegiatan dilaksanakan. Dimas juga mendorong penerapan konsep pentahelix framework, yang melibatkan lima sektor di Pemerintahan, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta, agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Dimas membagikan pengalamannya saat terjun langsung bersama Dompet Dhuafa dalam penyaluran bantuan dan pelaksanaan pendidikan darurat di Aceh. Selain distribusi logistik, tim juga melakukan trauma healing, layanan kesehatan gratis, penyediaan air bersih, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan warga terdampak. Menurutnya, bantuan kebencanaan perlu dirancang berdasarkan asesmen kebutuhan agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Sementara Itu, Slamet Widodo, selaku Relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta, membagikan kisah personal yang melatarbelakangi keputusannya menjadi relawan. Dodo mengungkapkan bahwa langkahnya tersebut berawal dari nazar ketika anaknya jatuh sakit, sehingga tergerak hatinya menjadi seorang relawan.
“Waktu anak saya kecil, sering masuk rumah sakit, jadi saya termotivasi ingin membantu sesama, atau menolong orang” tuturnya
Dodo juga membagikan pengalamannya selama terlibat dalam berbagai aksi kebencanaan. Menurutnya, setiap aksi selalu meninggalkan kesan yang berbeda dan menghadirkan pengalaman baru yang berharga. “Semua aksi yang saya jalankan itu berkesan, setiap aksinya memiliki hal baru atau pengalaman baru bagi saya. Bahkan hal ini terkesan sangat mengasyikkan dan juga mewah karena bisa membantu orang lain secara langsung” ujarnya.
Namun demikian, tantangan muncul ketika terjadi lebih dari satu kejadian darurat dalam waktu yang bersamaan. Pada kondisi tersebut, relawan ambulans harus menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kedaruratan dan jarak tempuh lokasi kejadian. Jika kejadian yang lebih darurat berada di lokasi yang jauh, koordinasi dengan tim ambulans terdekat menjadi langkah yang dilakukan agar penanganan tetap dapat berlangsung secara cepat dan tepat.
Ketiga narasumber sepakat bahwa ketahanan komunitas dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana yang direncanakan dengan baik, dilakukan secara partisipatif, dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor, penguatan peran pemuda, serta dedikasi relawan kemanusiaan dinilai menjadi kunci penting dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi risiko bencana.(rls)
